Deradjat Ginandjar: ODHA yang tetap Berprestasi

deradjat ginandjar

Deradjat Ginandjar baru-baru ini menerima penghargaan sebagai pemain terbaik di ajang Homeless World Cup 2011, di Paris, Perancis. Deradjat Ginandjar yang berusia 31 ini, berhasil mengharumkan nama bangsa di ajang Homeless World Cup 2011, ajang sepak bola jalanan yang diikuti oleh komunitas tunawisma, seperti pengguna narkoba dan penderita HIV/AIDS, yang dihelat di bulan Agustus. Dengan badan penuh tato dan dan potongan rambut mohawk tidak akan membuat orang percaya bahwa Ginandjar seorang atlet.

Deradjat Ginandjar adalah seorang penderita HIV yang  ingin merubah hidupnya. Tahun 2003, bersama teman-temannya, ia mendirikan “Rumah Cemara”, sebuah komunitas tempat berkumpulnya orang-orang yang pernah menjadi pengguna narkoba, juga mereka yang menderita HIV/AIDS. Komunitas ini menjadi tempat bagi para penderita HIV dan mantan pengguna narkoba untuk melakukan hal-hal positif dan membangun semangat hidup mereka.

Ginandjar menjadikan sepak bola sebagai salah satu jalan yang dapat membuat dirinya kembali bahagia menjalani hidup walaupun telah positif mengidap HIV. Dengan sepakbola, Ginandjar dapat menyalurkan kreativitasnya di tengah keterbatasan kondisi fisiknya.

HIV/AIDS memang menjadikan masyarakat mengucilkan mereka yang menjadi pengidap HIV/AIDS. Pandangan masyarakat beranggapan bahwa penyakit ini dapat dengan mudah menyebar atau terlalu berbahaya, seperti terlalu dekat dengan penderita atau melalui penggunaan barang bersama. Sedikitnya pengetahuan masyarakat mengenai penyakit ini menyebabkan para pengidap HIV lebih sulit menjalani hidup.

HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia sehingga kondisi penderita akan semakin melemah dalam melawan infeksi. Dengan kata lain, penderita mengalami defisiensi (kekurangan) sistem imun. HIV sebenarnya hanya bisa ditularkan melalui hubungan seksual terutama yang senang berganti-ganti pasangan, orang yang senang berhubungan seks melalui anus (anal), menggunakan jarum suntik bersama yang telah terkontaminasi darah penderita HIV lain seperti pada pengguna narkoba, transfusi darah yang terkontaminasi HIV, dan ibu hamil yang terinfeksi. Jadi, terlalu dekat dengan penderita HIV atau menggunakan barang bersama penderita tidak dapat menularkan HIV. Virus ini terdapat pada cairan tubuh, seperti darah, cairan sperma, dan cairan vagina, namun tidak untuk air liur.

Jadi, kenapa mesti menjauhi mereka pengidap HIV kalau ternyata penularannya tidak semudah yang dibayangkan. Justru dengan dukungan dari keluarga, lingkungan, dan masyarakat sekitar akan meningkatkan semangat hidup mereka, bahkan bisa berprestasi seperti Ginandjar ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*


one + = eight

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Page optimized by WP Minify WordPress Plugin