Penggalakan Kondom yang Kontroversial

6 hari yang lalu, akhirnya Presiden SBY melantik Menkes baru untuk mengisi kekosongan posisi Menteri Kesehatan yang sebelumnya dijabat oleh Alm. ibu Endang. Mulai sekarang posisi Menkes ditempati oleh Ibu Nafsiah Mboi. Baru saja dilantik, Ibu Nafsiah Mboi ini membuat gebrakan yang cukup kontroversial, yaitu seputar penggalakan penggunaan kondom pada kelompok seks berisiko. Yang menjadi masalah bagi sebagian orang adalah karena penggalakan penggunaan kondom ini menyasar pada remaja juga.
Menurut Ibu Menkes Nafsiah, kebijakan penggalakan kondom ini penting untuk menurukan angka kasus HIV/AIDS di Indonesia dan menurunkan angka aborsi karena kehamilan yang tidak diinginkan. Namun, seolah-olah kebijakan ini melegalkan penyimpangan seks, termasuk seks diluar nikah yang makin banyak terjadi pada remaja. Bila dulu remaja beli kondom dengan malu-malu atau berbohong, maka akses akan lebih dimudahkan.

Mari kita lihat penyebab HIV/AIDS. HIV/AIDS sebenarnya dapat menyebar ataupun menular karena berhubungan seks dengan berganti-ganti pasangan. Orang yang setia pada satu pasangan tidak akan mengalami HIV/AIDS. Berganti-ganti pasangan dalam berhubungan seks, menurut saya adalah salah satu bentuk penyimpangan seks.
Begitu juga dengan peningkatan angka aborsi pada remaja karena kehamilan yang tidak diinginkan. Kehamilan yang tidak diinginkan ini biasanya terjadi pada kalangan remaja yang belum menikah. Sudah terlanjur berhubungan seks tanpa memikirkan akibatnya, tau-tau berbadan dua. Repotkan? Apalagi bila orang tua maupun pihak laki-laki mendorong untuk aborsi atau malah meninggalkan tanggung jawabnya. Lalu, sebenarnya salah siapa?
Mari kita tidak menyalahkan siapa-siapa. Ibu Menkes Nafsiah Mboi berbicara sesuai koridornya, yaitu kesehatan. Namun, saya rasa ini bukan hanya PR Departemen Kesehatan, tetapi ini PR kita bersama. Pemerintah, masyarakat, media, dan diri pribadi kita berperan juga dalam mengurangi angka kasus HIV/AIDS atau aborsi karena kehamilan yang tidak diinginkan. Peran keluarga sangat penting dalam mencegah penyimpangan seks yang berujung pada penyakit. Orang tua seharusnya tidak menutup-nutupi hal-hal tentang seks. Namun, bisa dijelaskan dengan cara yang lebih baik yang sesuai dengan usia anak dan perlu ditekankan bahwa seks hanya bisa dilakukan apabila sudah menikah. Bila anak tidak dijelaskan dengan baik tentang seks, bisa jadi mereka akan mencari sendiri informasi tersebut dan malah mendapat informasi yang tidak sesuai atau malah langsung mencoba. Parah kan? Penyimpangan seks meningkat. Aborsi karena kehamilan yang tidak diinginkan juga meningkat. Selain itu, Depkes juga perlu lebih menekankan sosialisasi tentang pendidikan seks, akibat seks diluar nikah, dan tentang HIV/AIDS pada masyarakat untuk menurunkan angka kasus HIV/AIDS dan aborsi karena kehamilan yang tidak diinginkan.
Ini, pendapat saya, bagaimana dengan kamu?














